19 Jul 2026
Menetaskan telur burung murai menggunakan mesin tetas otomatis menjadi solusi bagi peternak yang ingin meningkatkan keberhasilan breeding. Mesin tetas dapat menjaga suhu dan kelembapan tetap stabil selama proses inkubasi sehingga peluang telur menetas menjadi lebih tinggi dibandingkan apabila indukan mengalami stres atau meninggalkan sarangnya.
Penggunaan mesin tetas juga memungkinkan peternak menyelamatkan telur dari indukan yang kurang mampu mengerami dengan baik. Namun, keberhasilan penetasan tetap bergantung pada kualitas telur, pengaturan suhu, kelembapan, dan perawatan selama proses inkubasi.
Gunakan telur yang berasal dari indukan sehat, aktif, dan memiliki riwayat reproduksi yang baik. Pilih telur dengan bentuk normal, cangkang utuh, tidak retak, dan tidak terlalu kotor. Sebaiknya telur dimasukkan ke mesin tetas maksimal 3–5 hari setelah dikeluarkan indukan.
Suhu merupakan faktor paling penting dalam keberhasilan penetasan. Untuk telur burung murai batu, suhu ideal berada pada kisaran 37,5°C hingga 37,8°C. Gunakan thermostat digital agar suhu tetap stabil selama 24 jam.
Suhu yang terlalu tinggi dapat menyebabkan embrio mati, sedangkan suhu yang terlalu rendah dapat memperlambat perkembangan embrio dan meningkatkan risiko gagal menetas.
Kelembapan juga harus diperhatikan selama proses inkubasi.
Peningkatan kelembapan menjelang menetas membantu melunakkan selaput telur sehingga anak burung lebih mudah memecahkan cangkangnya.
Apabila mesin belum dilengkapi fitur auto turning, telur perlu dibalik minimal tiga kali sehari. Pembalikan dilakukan secara perlahan untuk mencegah embrio menempel pada salah satu sisi cangkang.
Pembalikan dihentikan sekitar tiga hari sebelum perkiraan menetas.
Candling dilakukan menggunakan lampu LED untuk melihat perkembangan embrio di dalam telur. Pemeriksaan biasanya dilakukan pada hari ke-5 hingga ke-7, kemudian diulang pada hari ke-10.
Jika terlihat pembuluh darah yang menyebar, berarti embrio berkembang dengan baik. Apabila telur masih bening, kemungkinan telur tidak dibuahi.
Dalam kondisi normal, telur burung murai batu akan menetas dalam waktu sekitar 13–15 hari. Lama penetasan dapat berbeda tergantung kualitas telur dan kestabilan suhu mesin tetas.
Hindari membuka tutup mesin tetas terlalu sering karena dapat menyebabkan suhu dan kelembapan berubah secara drastis. Bukalah mesin hanya ketika diperlukan, misalnya saat menambah air atau melakukan pemeriksaan.
Setelah telur menetas, biarkan anak burung tetap berada di dalam mesin tetas selama sekitar 6–12 jam hingga bulunya mengering. Setelah itu, pindahkan ke brooder dengan suhu sekitar 34–36°C agar tetap hangat.
Menetaskan telur burung murai di mesin tetas otomatis merupakan metode yang efektif untuk meningkatkan keberhasilan breeding. Kunci utamanya adalah menjaga suhu sekitar 37,5–37,8°C, mengatur kelembapan sesuai fase inkubasi, membalik telur secara teratur, serta menjaga kebersihan mesin. Dengan perawatan yang tepat, peluang telur murai menetas menjadi anakan yang sehat akan jauh lebih tinggi.